BEDAH BUKU DALAM 3 BUKU 3 KRITIKUS DAN 1
PENGARANG
Universitas PGRI Semarang mengadakan Bedah
buku ( UPGRIS BERSASTRA) tanggal 18
oktober 2016 di balairung. Dalam bedah buku ini Universitas PGRI mengundang
tiga kritikus yang, awal pertunjukan penonton di sambut oleh musik yang di
nyanyikan oleh biscuittime band yang berasal dari universitas pgri, beberapa
lagu di persembahkan untuk menyambut penonton yang memasuki balairung dan musik
terakhir di persembahkan untuk Rektor Universitas PGRI saat memasuki balairung.
Setelah musik selesai pertunjukan tarian yang di iringi lagu kiss the rain dengan
tarian yang di lakukan oleh 1 penari. Dalam acara ini anak bahasa diwajibkan
hadir untuk menyaksika pertunjukkan dalam menyambut bulan bahasa yang akan
dilaksanakan pada tanggal 27 oktober mendatang. Dalam bedah buku membahas karya
yang dibuat oleh bapak Triyanto Triwikromo. Banyak ilmu yang di dapat dari bedah
buku ini, karena dengan diadakan nya
bedah buku semua penonton mendapatkan ilmu tentang sastra yang mungkin akan
susah di pahami jika hanya membaca saja. Semua penonton antusias dalam
mendengar dari bapak Triyanto Triwikromo yaitu pengarang dari buku itu sendiri
itu sendiri, dalam acara bedah ini berharap semua penonton yang mungkin merasa
ingin terjun dalam dunia yang di geluti
sang pengarang maka akan menjadi lebih paham. Bagi fakultas pendidikan bahasa
dan sastra (FPBS) semua perkuliahan hari itu di alihkan ke balairung tempat
dimana bedah buku akan dilaksanakan, ini semua dilakukan untuk menambah wawasan
FPBS agar semakin kreatif. Dalam acara ini pun banyak pertunjukan yang membuat
semua penonton tercenggang dibuatnya, contohnya ketika acara bedah buku akan
dibuka oleh Rektor Universitas PGRI,
bapak muhdi memberi sambutan kepada pengarang begitu hangat, bahkan beliau
menunjukkan keahlian nya dalam bermusik dan bernyanyi ditengah tengah penoton,
sontak semua penontok teriak menganggumi rektor yang tak disangka pandai dalam
bermusik. Setelah acara dibuka oleh Rektor Universitas PGRI maka semua acara
berlangsung kembali dengan hadirnya ketiga kritikus yang akan mengisi acara
dalam bedah buku ini dan pembawa acaranya yaitu bapak Harjito, dengan gaya khas beliau dapat
membuat penonton tertawa karena kelucuan dalam berbicara. Dalam acara bedah
buku ini kami dapat menyimpulkan bahwa dalam proses membuat sebuah karya sastra
pasti menuai kritikan entah kritikan pedas ataupun kritikan yang bagus,
bergantung bagaimana seseorang itu menilai. Dalam karya bapak Triyanto
Triwikromo ini banyak menceritakan kisah nyata seperti menggambarkan sifat
manusia dikehidupan nyata. Dalam acara ini bukan hanya dari universitas PGRI
saja namun adapun penggemar dari bapak Triyanto Triwikromo yang memeriakan
acara bedah buku ini. Acara seperti ini seharus nya tidak dilaksanakan hanya 1
tahun sekali namun sesering mungkin agar menumbuhkan rasa kreatif kepada
mahasiswa khusus nya FPBS namun seharusnya pula tidak hanya diselenggarakan
untuk anak bahasa saja melainkan untuk semua fakultas karena karya sastra tidak
hanya di buat oleh anak bahasa namun juga semua orang dapat membuat sebuah
karya sastra. Acara seperti ini seharusnya
sering di selenggarakan bukan hanya di kampus namun juga di sekolah menengah pertama
ataupun sekolah menengah keatas. Upgris bersastra sering dilakukan di
Universitas PGRI, beberapa waktu yang
lalu Universitas PGRI menyelenggarakan UPGRIS BERSASTRA dengan temah Betah
Puisi. Acara bedah buku membuat wawasan yang luas bagi penonton. Dalam bedah
buku ini pengarang menjelaskan bahwa unsur binatang yang terdapat dalam puisi yaitu menggambarkan
sisi jahat dari manusia. Menurut pengarang semua manusia adalah binatang
bertulang belakang. Bapak Triyanto
Triwikromo membutuhkan 30 tahun untuk menulis tanpa berhenti. Dalam acara bedah
buku ini bapak Triyanto Triwikromo menangis terharu saat di depan para
penonton. Pengarang menceritakan kisah awal mulai menulis hingga sekarang. Menurut pengarang jalan kesustraan bukanlah jalan yang mewah tapi jalan
kesustraan dalam bahasa orang-orang hebat adalah dalam kesustraan kita semua
sedang berlomba-lomba menjadi manusia. Dalam salah satu judul karya sastra yang
dibuat oleh bapak Triyanto Triwikromo menjelaskan bahwa dalam diri manusia
mempunyai sifat binatang, yang terkadang mereka tidak sadar. Empat karya satra
yang di tulis beliau sudah di terjemahkan menggunakan bahasa inggris. Beberapan karya yang tulis beliau
sudah diterjemahkan ke bahasa swedia, perancis, belanda, dan jerman. Menurut
pengarang kita semua yang tinggal dikampung bukan kampung yang membuat semua
orang inverior dan bukan lah kampung yang
membuat orang orang di belahan dunia lain mengatakan Semarang tidak ada
apa-apa. Pengarang menjabarkan tiga hal
yang akan di ucapkan dalam forum internasional . menurut beliau kehidupan penuh
dengan pertikaian. Salah satu kritikus menceritakan kisah pengarang dimasa
beliau belum sukses seperti sekarang. Dalam acara yang di selenggarakan oleh
Universditar PGRI memiliki dampat yang positif bagi penonton, apalagi bagi
siapapun yang ingin terjun di dunia sastra.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar