Senin, 02 Januari 2017




BEDAH BUKU DALAM 3 BUKU 3 KRITIKUS DAN 1 PENGARANG
 
Universitas PGRI Semarang mengadakan Bedah buku ( UPGRIS BERSASTRA)  tanggal 18 oktober 2016 di balairung. Dalam bedah buku ini Universitas PGRI mengundang tiga kritikus yang, awal pertunjukan penonton di sambut oleh musik yang di nyanyikan oleh biscuittime band yang berasal dari universitas pgri, beberapa lagu di persembahkan untuk menyambut penonton yang memasuki balairung dan musik terakhir di persembahkan untuk Rektor Universitas PGRI saat memasuki balairung. Setelah musik selesai pertunjukan tarian yang di iringi lagu kiss the rain dengan tarian yang di lakukan oleh 1 penari. Dalam acara ini anak bahasa diwajibkan hadir untuk menyaksika pertunjukkan dalam menyambut bulan bahasa yang akan dilaksanakan pada tanggal 27 oktober mendatang. Dalam bedah buku membahas karya yang dibuat oleh bapak Triyanto Triwikromo. Banyak ilmu yang di dapat dari bedah buku ini, karena dengan  diadakan nya bedah buku semua penonton mendapatkan ilmu tentang sastra yang mungkin akan susah di pahami jika hanya membaca saja. Semua penonton antusias dalam mendengar dari bapak Triyanto Triwikromo yaitu pengarang dari buku itu sendiri itu sendiri, dalam acara bedah ini berharap semua penonton yang mungkin merasa ingin terjun dalam dunia yang  di geluti sang pengarang maka akan menjadi lebih paham. Bagi fakultas pendidikan bahasa dan sastra (FPBS) semua perkuliahan hari itu di alihkan ke balairung tempat dimana bedah buku akan dilaksanakan, ini semua dilakukan untuk menambah wawasan FPBS agar semakin kreatif. Dalam acara ini pun banyak pertunjukan yang membuat semua penonton tercenggang dibuatnya, contohnya ketika acara bedah buku akan dibuka oleh Rektor  Universitas PGRI, bapak muhdi memberi sambutan kepada pengarang begitu hangat, bahkan beliau menunjukkan keahlian nya dalam bermusik dan bernyanyi ditengah tengah penoton, sontak semua penontok teriak menganggumi rektor yang tak disangka pandai dalam bermusik. Setelah acara dibuka oleh Rektor Universitas PGRI maka semua acara berlangsung kembali dengan hadirnya ketiga kritikus yang akan mengisi acara dalam bedah buku ini dan pembawa acaranya yaitu bapak  Harjito, dengan gaya khas beliau dapat membuat penonton tertawa karena kelucuan dalam berbicara. Dalam acara bedah buku ini kami dapat menyimpulkan bahwa dalam proses membuat sebuah karya sastra pasti menuai kritikan entah kritikan pedas ataupun kritikan yang bagus, bergantung bagaimana seseorang itu menilai. Dalam karya bapak Triyanto Triwikromo ini banyak menceritakan kisah nyata seperti menggambarkan sifat manusia dikehidupan nyata. Dalam acara ini bukan hanya dari universitas PGRI saja namun adapun penggemar dari bapak Triyanto Triwikromo yang memeriakan acara bedah buku ini. Acara seperti ini seharus nya tidak dilaksanakan hanya 1 tahun sekali namun sesering mungkin agar menumbuhkan rasa kreatif kepada mahasiswa khusus nya FPBS namun seharusnya pula tidak hanya diselenggarakan untuk anak bahasa saja melainkan untuk semua fakultas karena karya sastra tidak hanya di buat oleh anak bahasa namun juga semua orang dapat membuat sebuah karya sastra. Acara seperti ini seharusnya  sering di selenggarakan bukan hanya di kampus  namun juga di sekolah menengah pertama ataupun sekolah menengah keatas. Upgris bersastra sering dilakukan di Universitas PGRI, beberapa waktu  yang lalu Universitas PGRI menyelenggarakan UPGRIS BERSASTRA dengan temah Betah Puisi. Acara bedah buku membuat wawasan yang luas bagi penonton. Dalam bedah buku ini pengarang menjelaskan bahwa unsur binatang  yang terdapat dalam puisi yaitu menggambarkan sisi jahat dari manusia. Menurut pengarang semua manusia adalah binatang bertulang belakang.  Bapak Triyanto Triwikromo membutuhkan 30 tahun untuk menulis tanpa berhenti. Dalam acara bedah buku ini bapak Triyanto Triwikromo menangis terharu saat di depan para penonton. Pengarang menceritakan kisah awal mulai menulis hingga sekarang.  Menurut pengarang jalan kesustraan  bukanlah jalan yang mewah tapi jalan kesustraan dalam bahasa orang-orang hebat adalah dalam kesustraan kita semua sedang berlomba-lomba menjadi manusia. Dalam salah satu judul karya sastra yang dibuat oleh bapak Triyanto Triwikromo menjelaskan bahwa dalam diri manusia mempunyai sifat binatang, yang terkadang mereka tidak sadar. Empat karya satra yang di tulis beliau sudah di terjemahkan menggunakan bahasa  inggris. Beberapan karya yang tulis beliau sudah diterjemahkan ke bahasa swedia, perancis, belanda, dan jerman. Menurut pengarang kita semua yang tinggal dikampung bukan kampung yang membuat semua orang inverior dan bukan lah kampung yang  membuat orang orang di belahan dunia lain mengatakan Semarang tidak ada apa-apa.  Pengarang menjabarkan tiga hal yang akan di ucapkan dalam forum internasional . menurut beliau kehidupan penuh dengan pertikaian. Salah satu kritikus menceritakan kisah pengarang dimasa beliau belum sukses seperti sekarang. Dalam acara yang di selenggarakan oleh Universditar PGRI memiliki dampat yang positif bagi penonton, apalagi bagi siapapun yang ingin terjun di dunia sastra.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar