MENGOMENTARI ESAI DARI PRANANING MEISYA MAYADAH
(Esai drama Jaka Tarub dan Monolog Balada Sumarah)
Saya setuju dengan esai yang ditulis
oleh prananing meisya mayadah karena tentang alur yang ada dicerita jaka tarub
dan monolog balada sumarah namun saya kurang setuju tentang kurang lengkap nya
cerita jaka tarub dikarenakan cerita dalam alamat blog https://id.m.wikipedia.org/wiki/Legenda_Jaka_Tarub yang dilihat oleh prananing meisya
mayadah yang mengatakan bahwa ada cerita yang terlewatkan yang seharusnya ada
dipenampilan drama tersebut, karena menurut saya jika cerita benar benar di
pertunjukan sesuai dengan isi cerita maka akan memakan banyak waktu sedangkan
setelah cerita jaka tarub masih ada ceriita lain yaitu Monolog Balada Sumarah
yang harus mereka saksikan dan juga saya tidak setuju mengenai apa yang
dikatakan prananing mengenai pembandingan drama yang ditampilkan anak gema
UPGRIS dengan alamat blog https://id.m.wikipedia.org/wiki/Legenda_Jaka_Tarub mengenai akhir cerita yang
sebenarnya karena jika cerita selesai sampai nawang wulan menikah akan terasa
aneh untuk penonton. Saya setuju dengan pernyataan prananing meisya mayadah
mengenai make up yang dipakai oleh pemain pria yang memerankan jaka tarub,
karena ketika lampu menyala make up terlihat terlalu berlebihan tidak natural
padahal dicerita jaka tarub adalah pria desa yang tinggal dekat dengan sungai.
Saya juga suka dengan penampilan dagelan yang berguna untuk memberi kesan waktu
yang sudah lama berlalu sehingga penonton tidak bingung dengan jalan cerita
yang dipertunjukkan oleh gema teater UPGRIS. Mengenai Monolog Balada Sumarah
saya sependapat dengan prananing dalam penampilan ini permain memerankan
sumarah sangat baik sehingga penonton dapat merasakan apa yang dirasakan oleh
Sumarah selama ini dan ekspresi pemain dalam peran sumarah sangatlah memukau
penonton, dia bisa memerankan beberapa karakter orang yang didalam cerita
tersebut.
Dalam esai yang ditulis oelh prananing meisya
mayadah seharusnya menuliskan tentang makna juga dalam cerita yang dapat
diambil oleh penonton dalam setiap cerita, karena dalam cerita satu dengan
cerita lain mengandung makna kehidupan yang berbeda. Dengan adanya tulisan
mengenai makna yang dapat penonton petik akan membuat pembaca membayangkan bahwa
pertunjukan yang dilakukan oleh Gema Teater UPGRIS sangat menarik dan
bermanfaat terutama bagi generasi bangsa. Akhir penulisan esai prananing hanya menjelaskan
penting nya pertunjukkan dan manfaat adanya pertunjukkan. Saya hanya
menambahkan dalam cerita Jaka Tarub menurut saya dalam cerita yang di tampilkan
dalam cerita tersebut bagus, karena pemain didalam nya sangat luwes dalam
memerankan perannya. Seharusnya pertunjukan ini dilakukan tidak hanya di sebuah
kampus namun juga disebuah lembaga pendidikan agar generasi saat ini dan
selanjutnya akan mengenal cerita rakyat yang tidak kalah menariknya dengan
sinetron yang sekarang ini lebih di sukai oleh kalangan anak kecil sampai
kalangan remaja. Seharusnya juga dalam stasiun televisi memperbanyak mengeluarkan
film yang dapat mengangkat cerita rakyat karena dengan seperti itu penyebaran
atau mengenalan mengenai cerita rakyat sangat lebih cepat dibandingkan dengan
yang lain, karena anak zaman sekarang lebih menyukai televisi dibandingkan siaran
lain seperti radio.
Sebenarnya anak akan menyukai cerita
rakyat jika sudah terbiasa menonton, buktinya anak kecil akan lebih suka mendengar
dongeng yang di cerikan oleh ibu nya yang biasanya kategori cerita rakyat namun
ketika mereka sudah mulai beranjak remaja mereka melupakan cerita tersebut
karena mereka mulai menyukai apa yang mereka tonton bukan apa yang mereka
dengar seperti masa anak-anak dulu, namun akan berbeda jika sejak kecil
mendengarkan dongen atau cerita rakyat setelah beranjak remaja di suguhi tontonan
yang mengandung cerita rakyat maka anak akan selalu mengingat dan pada akhirnya
cerita rakyat tidak akan pernah dilupakan oleh anak bangsa bahkan bisa jadi
mereka akan meneruskan ke generasi berikutnya.
Saya setuju dengan esai prananing
meisya mayadah yang mengatakan bahwa “Jadi dengan adanya pementasan tersebut mengingatkan
kembali adanya sejarah yang sangat terkenal di Negara ini. Sebagai masyarakat
Indonesia khususnya masyarakat sekitar harus lebih memperkenalkan lagi cerita-cerita
legenda di sekitarnya. Supaya kelak generasi penerus tetap mengetahui
legenda-legenda di sekitarnya.” Karena dapat dibayangkan jika cerita rakyat
tidak di lestarikan sekarang juga maka 10 tahun yang akan datang cerita rakyat
akan hilang tanpa bekas karena di zaman sekarang pun anak banyak tidak
mengetahui apa saja cerita rakyat yang ada di Negara ini, itu semua membuktikan
bahwa sebuah perubahan akan membuat cerita yang berharga akan tergeser oleh
sebuah karangan semata yang tidak pasti kebenaran nya dan hanya dikarang oleh
seseorang hanya untuk kepentingan sendiri.
Dalam dunia perfilman mereka akan
mengikuti pasar untuk kepentingan mereka sendiri padahal jika cerita rakyat di
pertunjukkan dalam dunia film akan lebh besar pengaruhnya karena dapat dilihat
oleh semua orang di dunia ini, tidak harus diperankan seseorang saja bahkan
dapat di jadikan tontonan anak anak atau biasa kita sebut kartun dalam menceritakan
cerita rakyat. Tapi sayang nya sekarang kartun jarang di tayangkan hanya ada
beberapa itu pun bukan termasuk cerita rakyat. Sangat disayangkan jika sebuah
cerita rakyat yang diwariskan dari nenek moyang kita hilang ditelan oleh zaman
tanpa ada penerusnya.
Sungguh kasian untuk generasi berikutnya yang
tak bisa menikmati sebuah cerita rakyat di daerah nya maupun Negara ini.
Sesungguhnya ini adalah warisan turun temurun yang seharusnya di jaga dan di
lestarikan hingga ke generasi selanjutnya karena dalam cerita rakyat ini banyak
sekali yang menarik dan banyak member manfaat bagi penonton nya. Cerita rakyat
pun dapat dikembangkan menjadi objek wisata yang dapat dikunjungi oleh siapapun
baik untuk warga dalam Negeri maupun Mancanegara yang dapat membuat Negara ini
dikenal bukan hanya budaya nya namun juga karena cerita rakyat yang tidak
pernah hilang ditelan zaman yang selalu berkembang.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar